Minggu, 19 Januari 2014

MASALAH, DAN SOSLUSI REMAJA SAAT INI dalam Masyarakat Multikultural


Siapa bilang jadi remaja kreatif itu susah?
Siapa pun dia, dari kalangan anak-anak, remaja, maupun dewasa pasti ingin menjadi manusia yang kreatif. Pada hakikatnya menjadi remaja kreatif itu mudah karena banyak sekali cara yang bisa mereka lakukan agar dapat berkreasi dan dapat mengembangkan bakat yang dimiliki. Disadari atau tidak  kreatif dan cerdas merupakan modal utama bagi seorang remaja untuk meraih masa depannya. 
Kalau ditanya tentang berapa banyak remaja yang ingin cerdas dan kreatif, pasti setiap remaja ingin cerdas dan kreatif, akan tetapi hampir sebanyak itu juga remaja yang tidak mau mengembangkan bakat yang mereka miliki dan mengasah potensi diri mereka agar menjadi remaja yang cerdas dan kreatif. Dari beberapa pertanyaan yang diajukan kepada remaja, berikut alasan yang mereka tuturkan.
1.     Mayoritas dari remaja sebelum memulai pekerjaan selalu mengatakan “nggak bisa”. Kata-kata inilah yang tidak asing berkumandang ditelinga kita dari mulut para remaja ketika disuruh bekerja atau berbuat sesuatu. Mereka seringkali tidak percaya dengan kemampuan yang mereka miliki dengan kata lain mereka kurang percaya diri. Inilah yang dinamakan dengan kalah sebelum berperang. Seperti inikah mental generasi muda kita?.
2.   Belum mencoba sudah bilang “nggak mau”. Kalau sudah mengatakan nggak mau, apa boleh buat! Maka secara tidak langsung kreatifitas langsung terbunuh. Bagaimana bias menjadi orang yang cerdas dan kreatif, belum melakukan sudah berkata tidak mau. Hal ini disebabkan oleh gengsi dari remaja ketika melakukan pekerjaan yang dianggap bias melunturkan harga dirinya, padahal pekerjaan tersebut dapat membuat mereka kreatif. Sehingga timbul dalam benak kita, sebenarnya kegiatan apakah yang mereka inginkan yang tidak membuat mereka gengsi?. Seharusnya para remaja jangan gengsi untuk melakukan berbagai kegiatan yang belum kita lakukan karena siapa tahu dari kegiatan coba-coba tersebut mereka menemukan bakat mereka yang selama ini terpendam. Tapi, ingat kegiatan yang kita lakukan haruslah kegiatan yang positif. Jangan melakukan kegiatan coba-coba yang berbau negatif, karena bukannya menjadi remaja yang kreatif malahan menjadi remaja yang tidak bermoral
3.   Kurang percaya diri. Siapa yang bisa? Seluruh remaja langsung menunjuk teman-temannya untuk maju atau berbicara. Padahal ia mampu menjawab maupun member solusi yang pantas, akan tetapi karena ia takut salah, ia menyuruh temannya untuk maju. Hal ini tidak jarang kita temui di berbagai kegiatan baik disekolah maupun dipertemuan-pertemuan formal dan nonformal. Sampai kapan remaja kita berani mengungkapkan isi hati dan pemikirannya untuk lebih baik lagi.
4.    Tidak mengetahui kelebihan diri-sendiri. Coba tanya pada remaja saat ini, apakah anda memiliki kelebihan. Secara spontan mereka mengangkat tangan dan menggaruk-garuk kepala. Pertanyaan ini saja tidak mampu dijawab, bagaiman ia bisa menciptkan hal yang baru atau lebih kreatif lagi. Diri-sendiri saja belum ia kenal apalagi pekerjaan apa yang harus ia lakukan atau karya apa yang bisa ia ciptakan?
5.    Sudah nyaman dengan keadaan sekarang. Apa yang akan dilakukan seorang remaja kalau ia sudah merasa puas dengan yang ia miliki saat ini. Ia tidak akan berani untuk membuat yang baru karena takut akan kehilngan yang ia miliki saat ini. Justru lebih ironis lagi, remaja yang nyaman dengan kondisi ketertinggalannya. Ia senang menghabiskan waktu dengan kesenangan yang sebenarnya belum menciptakan yang dahsyat. Sampai kapan ia akan merasa tenang dengan ia miliki sekarang padahal kebutuhan semakin bertambah seiring dengan perkembangan zaman.
6.  Kurangnya kesadaran generasi muda untuk berkreasi, remaja saat ini lebih cenderung mengahabiskan waktu mereka dengan hal-hal yang tidak berguna. Bisa dilihat dari aktifitas mereka yang enggan untuk mengisi waktu mereka dengan hal yang bermanfaat seperti membaca, menulis, atau mencoba menciptakan benda-benda yang berguna bagi kehidupannya. Malah yang tampak pada kegiatan remaja adalah jalan-jalan ke mall, ke pantai, hura-hura untuk menghabiskan sisa waktu setelah belajar. Caranya ialah, dengan cara mencari jati diri kita. Tidak sulit menjadi remaja yang kreatif. Hal ini tentunya berdasarkan dari keinginan teman-teman sendiri. Jika orang bisa kenapa kita nggak?. Tapi ingat, dalam melakukan kegiatan, sekolah tetap nomor satu, jangan sampai sekolah tinggal hanya gara-gara menekuni banyak kegiatan, ya percuma saja. Karena remaja yang kreatif itu adalah remaja yang bukan hanya sukses dalam berbagai kegiatan tapi juga sukses dalam urusan belajar disekolah.

Yang Harus Dilakukan Para Remaja
1.    Menjadi Manusia Proaktif. Jadilah manusia yang proaktif. Yaitu manusia yang mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati dan tanpa ada rasa terpaksa.
2.      Mulailah segala sesuatu dari tujuan ahirnya. Setiap pekerjaan yang kita lakukan harus memiliki visi. Visi inilah yang member gambaran dan arahan bagaimana tujuan ahir akan dicapai. Dengan adanya visi kita akan bersemangat, fokus sekaligus melakukan tindakan-tindakan bertahap yang diperlukan agar visi terwujud. Dengan memulai sesuatu dari tujuan ahirnya, maka kita akan terhindar dari menyia-nyiakan waktu untuk sesuatu yang dalam jangka panjang atau bentuk ahir yang tidak bermanfaat.
3.   Dahulukan Yang Pertama. Dalam hidup selalu ada hal penting dan hal kurang penting atau bahkan tidak penting sama sekali. secara sederhana, kita bisa membagi aktivitas untuk menentukan mana yang penting mana yang tidak, mana yang urgent dan mendesak dan mana yang tidak. Sering kali orang tercampur dan tidak bisa membedakan antara sesuatu yang penting dan sesuatu yang mendesak.
4.    Berpikir Menang. Setiap orang punya kepentingan. Sering kali kita tidak sadar ingin menang sendiri. Kita ingin melakukan sesuatu yang menguntungkan diri kita namun merugikan orang lain. Atau kalupun tidak sampai merugikan orang lain, kita hanya memikirlkan kepentingan kita dan tidak peduli apakah hal-hal yang menjadi perhatian orang lain ikut dipertimbangkan atau tidak. Tindakan disini disebut Win-Lose. Satu pihak menang namun pihak lainya harus kalah. Memang tidak mudah untuk membiasakan cara berfikir win-win. Ini menuntut sikap empati terhadap situasi yang dihadapi orang lain. Berpikir win-win akan menjauhkan kamu dari cara bertindak egois yang hanya ingin kepentingan pribadi diutamakan. 
5.    Pahami Lebih Dulu Orang Lain, Agar Mereka Juga Bisa Memahami kamu. Orang bijak mengatakan, kita memiliki dua telinga dan satu mulut agar lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Keterampilan mendengarkan atau listening menjadi penting buat semua orang, terutama jika kamu seorang pemimpin. Mendengarkan yang sesungguhnya adalah kita menaruh perhatian atas apa yang disampaikan orang lain, berusaha memahaminya, dan berusaha melihat dari sudut pandangnya. Dengan demikian kita menjadi paham mengapa orang tersebut cenderung melakukan sesuatu dengan cara tertentu, atau mengapa dia lebih memilih melakukan sesuatu dan meninggalkan yang lainnya. Kebiasaan ini mengajarkan kepada kita untuk men-diaknosa permasalahan dengan baik sebelum member tindakan.
6.    Melakukan Sinergi Dengan Orang Lain.Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Itu sebabnya kita akan selalu saling membutuhkan. Kekurangan kita ditutupi oleh kelebihan yang dimiliki orang lain dan sebaliknya apa yang menjadi kelebihan diri kita dapat dimanfaatkan untuk membantu orang lain. Inilah kerjasama harmonis di mana masing-masing pihak menyadari kelebihan dan kekurangan masing-masing dan memilih bersinergi, bukan berjalan sendiri-sendiri.
7.  Pertajam Segala Macam Bentuk Penglihatan Diri. Ini dimaksudkan sebagai cara agar kamu melakukan tindakan yang dapat mempertajam segala macam bentuk sensor pribadi yang ada di dalam diri. Mulai dari dimensi fisik, mental, sosial, emosional, dan juga spiritual. Semua dimensi ini harus dijaga supaya seimbang. Tujuanya tentu saja agar peningkatan produksi bisa di sadari dan dijadikan sebagai kebiasaan yang tak lagi dilakukan secara paksa.

1 komentar:

Menyusun Best Practices

  LK 3.1 Menyusun Best Practices   Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice) Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi...